THE PAPERBACK, “Milik Kita”

MILIK KITA

Semburat cahaya mentari
Menyapa kilau embun pagi
Sawah, ladang, dan ilalang
Milik kita
Aku, kamu

Semilir angin berhembus
Sepoy sampaikah di wajahmu?
Berbaring menatap langit
Milik kita
Aku, kamu

Angin tingtrim
Di mumunggang gunung
Katojo panon poe nu ngulisik
Kingkilaban salira
Aduh
Ieung

Senandung cinta merona
Merenda kisah kasih dan asa
Menari di hari-hari
Milik Kita
Aku, kamu

Aku, kamu

…..
….

..

Aku dan ayah sering berbagi cerita. Walau tidak sebaik ibu dalam bercerita, apa yang dikisahkan ayah selalu berbekas. Kisahnya yang paling seru menurutku adalah legenda bintang-bintang. Saat itu aku belum sekolah, namun sudah dibiasakan untuk bangun subuh dan shalat berjamaah di mesjid. Untuk mengusir rasa kantukku, sepanjang perjalanan ayah akan bercerita mengenai rasi-rasi bintang yang ada di langit. Ursa mayor, ursa minor, bintang layang, kejora, rasi skorpio, bintang wuluku, dan kisah-kisah lain yang membuatku takjub dan berhasil mengalihkan kantuk sepanjang perjalanan menuju masjid. Ayah juga yang memperkenalkan aku kepada para perempuan : Dayang Sumbi, Dyah Pitaloka, Loro Jonggrang, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Cinderella, Rapunzel, Putih Salju, juga para binatang : Sakadang Kuya, Sakadang Monyet, Sakadang Peucang; juga Sangkuriang dan legenda Tangkuban Parahu.

Ayahku juga yang pertama kali membawaku naik ke puncak gunung di mana kami tinggal. Gunung Manglayang namanya, tingginya 1.800 m. Ayah bilang, setidaknya sekali dalam hidup kita pernah menaklukan satu puncak gunung. Entah kenapa ayah bilang seperti itu, namun aku setuju dengannya. Sejak ingatan pertamaku terbuka, salah satu yang sangat aku inginkan adalah menaiki gunung yang setiap hari aku pandang melalui jendela rumahku. Kami berangkat dari rumah berjalan kaki sekitar setengah hari hingga puncak. Saat itu umurku tujuh tahun, baru kelas dua sekolah dasar. Semua yang aku ingat saat itu adalah keindahan alam dan kedamaian yang menyejukkan tapi sangat menggairahkan. Ayah berhasil membuatku takjub dengan keajaiban sawah, ladang, dan ilalang yang mampu mendukung kehidupan nenek moyang sejak jaman dahuku. Bentuk organisme sederhana yang menghidupkan peradaban-peradaban besar di tanah manusia. Itu semua adalah warisan, yang harus kita jaga, bukan untuk dijual atau digadaikan, katanya. Sejak itu, jika tidak merasa nyaman, gunung adalah tempat yang aku kunjungi untuk merenung.
Ayah juga mengajariku mengaji Al Qur’an sehingga sedikitnya aku tahu tajwid. Aku bahkan sudah khatam Al Qur’an lima kali selama ini. Aku mendapatkan perasaan yang tenang ketika membaca Al Qur’an, perasaan yang tidak aku rasakan ketika membaca kitab lain. Aku merasakan satu alunan yang menuntunku menuju suatu tempat yang sejuk dan terang, membuatku nyaman dan tentram. Ayah pernah bilang bahwa ia menyayangi anak-anaknya dengan mengajarkan mereka membaca Al Qur’an sedini mungkin.

Ayah dari dulu hingga kini selalu menjadi idola dan inspirasiku. Aku suka caranya berpakaian yang gagah dan ngoboy. Ia tampan bahkan di umur tujuh puluhan. Rambut dan kumisnya yang putih serta kacamata coklat yang enggan lepas dari wajahnya. Ia juga flamboyan dan pandai menenangkan orang. Sedari kecil hingga kini, jika sesuatu yang buruk terjadi maka aku akan lari ke ayah dan memeluknya. Ia akan merangkul dan menenangkanku. Ayah sering berkata betapa ia menyayangiku seraya berkata, “Cinta ini milik kita anakku, nikmati dan berbagilah.”


Ya, cinta ini milik kita anak-anakku. Aku ingin kamu juga merasakan kedamaian yang sama aku rasa suatu waktu dalam hidupku. Kedamaian tak terdefinikan yang datang secara sederhana, mewarnai hidupmu, dan menjadi pegangan dalam hidupmu. Kedamaian yang tercipta ketika kamu ada di dekatku dan aku ada di dekatmu. Utuh.

Kabarkan kepada dunia : hari ini milik kita, aku dan kamu.
Nikmati dan berbagilah.

MILIK KITA
Lyric by Kimung, Music by Kimung & Paperback
Lyric and music, the Sundanese part, also featured Annisa Retni Maharani from Wanoja Karinding.
Produced by Paperback & The Babams
Recorded at Storn Labs, Dec 2013, by The Babams
Zemo – vocal
Annisa Retni – vocal
Ayi – guitar
David – guitar
Kimung – ukulele, karinding, jewsharp, karto, genggong
Jawis – karinding
Hendra – celempung

Short story by Kimung

Posts created 27

One thought on “THE PAPERBACK, “Milik Kita”

  1. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video to make your point. You obviously know what youre talking about, why throw away your intelligence on just posting videos to your weblog when you could be giving us something informative to read?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top