Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #8 KARINDING CIRAMAGIRANG

Peneliti karinding Cace Hendrik tahun 2009 menuliskan karinding di Ciramagirang dalam karya skripsi berjudul Karinding Ciramagirang di desa Ciramagirang Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur, Suatu Tinjauan Awal. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Ciramagirang, karinding mulai ada sekitar tahun 1908, tepatnya hari Jumat tanggal 07 bulan 07 tahun 1908. Ketika itu ada dua tokoh (karuhun) yaitu Mbah Congkrang Buana yang menguasai Gunung Congkrang di sebelah utara Desa Ciramagirang, dan Mabh Kair Panawungan yang menguasai Gunung Panawungan terleta di sebelah timur Desa Ciramagirang. Mereka mengadakan adu tanding ayam (ngadu hayam) yang diringi oleh waditra karinding dan celempung. Ngadu hayam ini dimenangkan oleh Mbah Congkrang Buana dank arena tidak sia menerima kekalahan, Mbah Kair Panawungan beserta pengikutya menyerbu Mbah Congkrang Buana dengan melempar-lemparkan batu sebagai senjatanya. Mbah Congkrang Buana dan pengikutnya membalas dengan melempar-lemparkan cau kole (pisang kole). Karena tempat Mbah Congkrang Buana lebih tinggi dari Gunung Panawungan, maka lemparan-lemparan batu tersebut tidak sampai ke Gunung Congkrang dan hanya sampai di suatu tempat yang sekarang menjadi Kampung Naringgul.

Batu Ngumbah Hayam
Gunung Kair Panawungan
Gunung Congkrang Buana

Kampung Naringgul menurut kepercayaan masyarakat setempat terlahir dari peristiwa tersebut. Dinamakan Naringgul karena di kampung ini terdapat batu-batu dengan ukuran besar berserakan, yang tidak lain dipercaya sebagai batu-batu yang dilemparkan oleh Mbah Kair Panawungan. Naringgul sendiri berasal dari kata taringgul yang artinya tidak rata karena terlalu banyak batu berserakan.

Sementara itu, Desa Cirama (Desa Ciramagirang sekarang) pada waktu terjadi perang tersebut tidak berada di kawasan konflik sehingga hanya kagareuwahkeun atau merasa kaget saja. Dari kata kagareuwahkeun inilah lahir nama untuk kawasan ini menjadi “Cirameuwah”, artinya sama dengan kagareuwahkeun. Desa Cirameuwah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Cirameuwah Girang dan Desa Cirameuwah Hilir. Hingga kini dua desa ini dikenal dengan nama Ciramagirang dan Ciramahilir.

Masyarakat sekitar mempercayai kisah legenda tersebut dan mereka mengeramatkan beberapa batu yang dipercaya bagian dari kisah tersebut. Batu-batu tersebut adalah Batu Peti, Batu Timbel, Batu Meja dan Batu Korsi di Kampung Naringgul Pojok; Batu Masigit, Batu Bangkong, Batu Ma Abu, Batu Liangan, dan Batu Simpur di Kampung Datar Nangka. Batu Simpur (batu besar datar) biasa digunakan Ukar Sukarya dan kawan-kawan sekitar tahun 1960an sebagai tempat mengangon kerbau sambil memainkan karinding dan celempung.

Seperti dikisahkan di atas, peristiwa ngadu hayam antara Mbah Congkrang Buana dan Mbah Kair Panawungan ini diiringi alunan karinding dan celempung. Orang yang membuat dua waditra ini bernama Kari yang perkerjaan sehari-harinya menggembala kerbau. Untuk menemaninya menggembala kerbau, Kari membuat sebuah waditra dan memainkan waditra tersebut untuk menghibur dirinya. Pada saat itu, waditra ciptaan kari ini tidak memiliki nama. Namun karena sering terlihat waditra ini dimainkan Kari sambil ngangon kerbau (munding dalam bahas Sunda), maka masyarakat sekitar menamakan waditra tersebut dengan nama karinding. Berasal dari kalimat “Kari ngangon munding.”

Serupa dengan penamaan karinding, kisah celempung bermula dari penggembala yang tidak diketahui namanya, namun orang ini selalu berpenampilan kucel (dekil) dan berasal dari kampung. Orang tersebut selalu memainkan sebuah waditra dari bahan bambu, maka lahirlah kata celempung, berasal dari frase kata “kucel” yang digabung dengan kata “urang kampung” yang digabungkan menjadi kata celempung.

Pengertian celempung sendiri diungkapkan Ubun Kubarsah (1995:53) bahwa, “celempung merupakan alat bunyi yang ditiru dari icikibung, yaitu bunyi permainan tradisional berupa pukulan telapak tangan dari gerak sikut di atas permukaan air, sehingga menimbulkan bunyi-bunyi yang khas. Permainan ini biasa dimainkan oleh para gadis yang mandi di sungai. Bunyi-bunyi dari permainan icikibung ini ditiru dan dipindahkan menjadi waditra yang terbuat dari bahan bambu besar (awi gombong) yang kemudian disebut celempung.

Karinding Ciramagirang merupakan waditra yang berfungsi sebagai kalangenan (hiburan pribadi) yang digunakan ketika menunggu padi dI sawah, menggembala ternak, atau pelepas lelah di rumah setelah seharian bekerja di sawah atau di lading. Namun, seiring waktu, karinding mengalami perubahan fungsi dari fungsi kalangenan menjadi fungsi tontonan. Hal ini berasal dari usulan Ukar Sukarya kepada teman-temannya yang menggabungkan ide untuk menggabungkan waditra karinding, celempung, goong buyung, keprak, kacapi, dan saron awi, ditambah seorang juru kawih dengan mengadopsi lagu-lagu kliningan. Maka terbentuklah grup seni karinding Ciramagirang sekitar tahun 1965 yang mengisi acara hajatan dan hiburan lainnya.

Apih Sumardi

Sejalan dengan perubahan itu, bentuk waditra karinding pun mengalami perubahan terutama dalam hal ukuran. Kalau sebelunya ukuran yang digunakan untuk pembuatan karinding menggunakan ukuran tiga jari (telunjuk, jari tengah dan jari manis, kurang lebih 5,5 cm) dengan dua jari (jari tengah dan telunjuk kurang lebih 3,5 cm), maka ukuran yang digunakan sekarang yaitu ukuran dua jari (jari telunjuk dan jari tengah kurang lebih 3,5 cm) dengan satu jari (ibu jari kurang lebih 2,5 cm).

Selain fungsi sebagai waditra kalangenan atau hiburan pribadi, karinding di Desa Ciramagirang juga berfungsi sebagaiwaditra pergaulan. Para pemuda Desa Ciramagirangketika Ukar Sukarya remaja, apa bila akan berkunjung ke rumah gadis idamannya selalu membawa karinding yang dijadikan media komunikasi dengan sang pujaan hati. Waditra ini juga digunakan untuk merayu perempuan, seperti juga diungkapkan oleh Atik Soepandi dkk (1987:88), “Fungsi karinding secara musikal di dalam penampilannya adalah selain sebagai ritme juga sebagai pembawa alur lagu (melodi). Fungsi karinding secara social adalah sebagai musik pergaulan. Pada masa silam merupakan instrument yang memiliki pernanan penting di masyarakat tertentu, terutama bagi para remaja di zaman itu. Karinding digunakan sebagai media komunikasi di kala berkunjung ke rumah gadis yang diincarnya. Di rumah si gadis tersebut diadakan atraksi lagu-lagu karinding yang dimaksud agar memperoleh perhatian dari si gadis. Jika si gadis telah terpikat pada suara karinding, diharapkan akan mencintai si penabuh karinding itu. Demikia pula si gadis yang diincar oleh si penabuh karindng akan mengagumi keterampilan sang kekasih yang sedang membunyikan alat tersebut, bahkan si gadis akan selalu mengenal bunyi pukulan karinding sang kekasih. Karinding dapat digunakan sebagai pelepas rindu, alangkah baiknya membunyikan waditra itu daripada duduk dan melamun.

Sebagai media komunikasi pergualan, karinding memiliki fungsi yang mirip dengan galeong yang terdapat di Kanekes Baduy. Atik Soepandi dan Enoch Atmadibrata (1983:30) mengungkapkan, ”Galeong merupakan alatmusik tiup melintang dari bahan bambu, mempunyai enam buah lubang nada. Digunakan sebagai media komunikasi (media pacaran) para remaja ketika berkunjung e rumah gadis idamannya. Di serambi rumah si gadis tersebut, sambil minum-minum dan makan makanan ringan, si pemuda tadi menyertainya dengan tiupan-tiupan galeong.”

Keterangan lain yang mendukung perihal di atas adalah kutipan Abun Somawijaya dkk (1996:20) yang menjelaskan bahwa galeong merupakan lat musik berlubang enam, dimanfaatkan seperti karinding, yaitu sebagai sarana komunikasi dalam percintaan yang digunakan oleh para pemuda setempat (Kaekes, Baduy) saat mendekati seorang gadis.

Karinding Ciramagirang terbuat dari bahan pelepah kawung berbentuk persegi panjang. Memiliki ukuran panjang mulai dari 15 cm sampai dengan 20 cm dan ukuran lebar 1,5 cm sampai 2 cm, terdiri dari empat bagian, yaitu bagian kepala yang disebut paneunggeul, hulu, atau bandul tepak, berfungsi untuk menggerakan lidah getar (buntut lisa); bagian jarum atau lidah getar yang disebut buntut lisa1 dan buntut lisa 2 yangberfungsi sebagai penghasil nad dan suara; pembatas lidah getar (bandul tengah); dan bagian ujung karinding (buntut) yang berfungsi untuk pegangan (panyepeng).

Menurut Ukar Sukarya, bahan yang digunakan untuk pembuatan karinding di Desa Ciramagirang adalah pelepah kawung yang usianya sudah sangat tua. Kawung saeran (atau kawung jantan yang tidak keluar bunga dan buahnya) merupakan kawung yang sangat baik untuk pembuatan karinding. Selain itu, Ukar juga menambahkan bahwa kawung saeran yang dianggap paling baik untuk bahan pembuatan karinding, yaitu palapah kawung saeran yang secara alami hanya tinggal dua batang lagi di pohonnya. Karena selain suara yang dihasilkan akan lebih nyaring, juga bahannya kuat, tidak rapuh sehingga tidak mudah patah, dan proses pengeringannya tidak memakan waktu lama. Bagian yang diambil sebagai bahan karinding adalah bagian tengah dari satu batang (saleunjeur)palapah kawung. Dari satu batang palapah kawung bias dihasilkan lima buah karinding. Bagian belakang (tonggong) dari bahan palapah kawung (bagian yang rata dengan warna lebih hitam) digunakan sebagai bahan pembuatan karinding.

Kiprah Apih Sumardi di media
Sekar Piagem Sundawani untuk Karindng Ciramagirang

@kimun666, musisi, sejarawan

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *