Thursday, June 4

Bahan Ajar

pembelajaran karinding

Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #9 GIRI UNDERGROUND

Seiring dengan Tasikmalaya dan Cianjur, perkembangan karinding di Bandung juga menunjukkan gejolak, terutama di daerah-daerah pinggiran sekitar pegunungan yang budaya agrarisnya kuat. Dua daerah yang menjadi tempat perkembangan karinding adalah Parakan Muncang dan Ujungberung. Di Ujungberung masih belum tergali siapa saja tokoh-tokoh yang mengembangkan karinding, namun menurut kisah para tokoh-tokoh sepuh yang kini berusia sekitar delapan puluh tahun, karinding dan celempung adalah musik yang mengiringi mereka belajar silat ketika masih anak-anak di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung. Parakan Muncang jejaknya lebih terlacak dengan keberadaan Entang Sumarna atau akrab disapa Abah Entang, seorang musisi kacapi yang juga bisa membuat karinding di kawasan Manabaya, Cimanggung, Parakan ...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #8 KARINDING CIRAMAGIRANG

Peneliti karinding Cace Hendrik tahun 2009 menuliskan karinding di Ciramagirang dalam karya skripsi berjudul Karinding Ciramagirang di desa Ciramagirang Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur, Suatu Tinjauan Awal. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Ciramagirang, karinding mulai ada sekitar tahun 1908, tepatnya hari Jumat tanggal 07 bulan 07 tahun 1908. Ketika itu ada dua tokoh (karuhun) yaitu Mbah Congkrang Buana yang menguasai Gunung Congkrang di sebelah utara Desa Ciramagirang, dan Mabh Kair Panawungan yang menguasai Gunung Panawungan terleta di sebelah timur Desa Ciramagirang. Mereka mengadakan adu tanding ayam (ngadu hayam) yang diringi oleh waditra karinding dan celempung. Ngadu hayam ini dimenangkan oleh Mbah Congkrang Buana dank arena tidak sia menerima kekalahan, Mbah Kair Pa...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #7 SANGHYANG SIKSA KANDA NG KARESIAN

Naskah Siksa Kanda Ng Karesian ini diperoleh dari buku Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632), transkripsi dan terjemahannya dilakukan oleh Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Ahmad Darsa, diterbitkan di Bandung tahun 1987 oleh Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis dirujuk sekaligus mendapatkan buku ini dari filolog Sinta Ridwan. Dalam buku ini disebutkan bahwa penggarapan naskah tidak berdasarkan pada naskah aslinya melainkan berdasarkan hasil alih aksara Drs. Atja yang tersimpan dalam bentuk stensilan di perpustakaan Universitas Padjadjaran. Dahulu penerbitan tersebut milik LKUP (Lembaga Ke...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #5 BADAK PAMALANG

Naskah selanjutnya yang berkaitan dengan karinding adalah Pantun Badak Pamalang. Bagian pertama penyebutan kata “karinding” adalah di bagian rajah. halaman 19 karinding si kawung hideung palapah kawung saeran curug jangkung kole hideung haur geulis congkol koneng Bagian kedua penyebutan kata “karinding” adalah di bagian kisah pantun, ketika bayi Badak Pamalang ditendang dan mendarat di hutan di dekat pohon cempaka. halaman 114 lain ti suling karinding tapi ngagantung mana na tangkal kembang campaka warna nu kasep murangkalih Carita Pantun Badak Pamalang sendiri adalah kisah mengenai Badak Pamalang, putera Prabu Munding Malati dan Putri Geulis Aci Malati. Pantun ini sangat panjang sehingga ketika akan dilantunkan oleh Ki Samid di Cisolok tahun 1971, ia meny...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING #4 SANGHYANG RAGA DEWATA

Suntingan dan terjemahan teks Sang Hyang Raga Dewata diambil dari sebuah naskah Sunda Kuna yang ditulis pada daun nipah dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuna. Naskahnya kini berada di Museum Sri Baduga Maharaja, Bandung, sebagai koleksi dengan nomor kode 07.106. Naskah tersebut tebalnya 25 lempir (50 halaman) dan berukuran 23,5 x 3,5 cm berasal dari Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya dan diterima oleh museum pada 1991. Dari seluruhnya 50 halaman itu ada tiga halaman yang kosong, sedangkan yang lainnya ditulisi secara bolak-balik (recto-verso). Setiap halaman ditulisi sebanyak empat baris, kecuali pada lempir terakhir hanya terdapat dua baris pada satu muka dan satu baris pada  muka lainnya. Ada empat lempir yang kondisinya tidak utuh lagi karena patah dan patahannya ...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING PIRIGAN #3 KALAMANDA SEKAR KOMARA SUNDA

Tasikmalaya sering menyebut dirinya sebagai daerah pertama kali karinding dibuat. Ini diperkuat oleh kisah Jajaka Kalamanda sebagai pencipta karinding di Tasikmalaya. Dalam syairnya “Karinding ti Citamiang” penyair Nazaruddin Azhar mengisahkan kembali cerita yang dituturkan Oyon Noraharjo tentang Kalamanda. Nun dahulu kala, lembur Citamiang, Pasir Mukti, ada dalam kekuasaan Kerajaan Galuh. Di kampung ini tersebutlah seorang jejaka gagah bernama Kalamanda yang merupakan cucu dari Raja Kerajaan Tengah atau Galuh. Suatu waktu, Kalamanda bertemu seorang mojang jelita yang seketika itu membuatnya jatuh cinta. Gadis itu bernama Sekarwati. Kalamanda mencari cara untuk mendekati Sekarwati, yang konon telah membuat patah hati ratusan pemuda yang berniat mendekatinya. Beragam aksi berbalut ketam...
Bahan Ajar

SASAKALA KARINDING#2 KARINDING AJNYANA

Sulit dilacak kapan pertama kali karinding hadir di masyarakat Sunda karena tak ada sumber tertulis yang menyebutkan secara pasti kapan waditra ini mulai ada. Satu tinjauan pernah dibuat Ragil Soeripto dan dimuat dalam Buletin Kebudayaan Jawa Barat, Kawit, tahun 1992, “Rachmat Ruchiyat berkesimpulan bahwa di samping berkembangnya musik bambu di Indonesia erat sekali kaitannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia tahun 1000 SM, bahkan yang jauh sebelumnya (10.000 – 5.000 SM) sudah ada suku bangsa yang telah menetap juga dari daratan Asia yang sisa-sisanya antara lain di Irian Jaya ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain menyerupai karinding (Pasundan) atau rinding atau genggong (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau Bali Ginggung.” Dari kutipan tersebut, waditra b...
“SASAKALA KARINDING #1 RAGAM WAJAH KARINDING”
Bahan Ajar, Kelas Karinding

“SASAKALA KARINDING #1 RAGAM WAJAH KARINDING”

Oleh Kimung Karinding konon alat musik yang telah digunakan karuhun Sunda sejak dahulu kala. Alat musik ini terbuat dari pelepah aren atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian tempat memegang karinding (pancepengan), jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing serta pembatas jarumnya, dan bagian ujung yang disebut paneunggeul (pemukul). Jika bagian paneunggeul ditabuh, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas. Jenis bahan dan jenis disain karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding yang men...
Kelas Karinding
Kelas Karinding

Kelas Karinding

KELAS KARINDING merupakan kelas yang diajarkan kepada para peminat seni karinding berbagai usia dengan mengkaji teknik-teknik permainan karinding, nilai-nilai kearifan lokal dan filsafat karinding, potensi ekonomi kreatif, kolaborasi musik dan seni, serta beragam teknis penggarapan pergelaran dan perekaman karinding. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peminat karinding akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang seni yang berkaitan. Program belajar dirancang untuk 1 tahun dan ditutup oleh RESITAL KELAS KARINDING. Seiring perkembangannya yang pesat sejak 2008, peminat karinding menghadapi beragam gairah perkembangan musik seiring dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap waditra ini. Oleh karena itu, KELAS KARINDING juga dirancang untuk mengembangkan penget...